Tampilkan postingan dengan label By Kitsune Diaz isHizuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label By Kitsune Diaz isHizuka. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

SAKAW

Summary :
"Gue pengen berubah Sakura.." suara Sasuke serak, dengan air mata berderai. "Gue pengen jadi orang baik."
"Sasuuukeee… Loe lagi teler. Jangan ngebuuut…!"
SAKAW
By : Nara 'Diaz' anezAki
Rated : M for bloody *buat jaga2*
Genre : Angst/Tragedy/Friendship
Pairing : Sasu x Saku, Saku x OOC, slight Shika x Ino
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Abal, GaJe, Full Sakura POV, Bahasa gaul & tidak baku, Maybe typo(s). Don't Like Don't Read

SAKURA POV
"Aku haruuus bisssaaa…"ku kepalkan tangan kuat-kuat. Kurasakan sakit sekali. Aku mengerang, menyelimuti jerit yang tertahan.
'Tidak… Tidak! Tak boleh ada yang tahu jika aku kini tengah…'
Ku pukul-pukulkan tanganku ke dinding, seakan meremuk persatuan batu bata dalam liatan semen bercat putih di depanku. Cat putih yang tiba-tiba memercik darah… merah. Tanganku terluka, memar.
'Ughhh…!' sakit itu semakin mengoyak-moyak. Ia menari-nari di depan mata. Akupun mendadak menjadi serpihan debu yang terhempas.
'Kami-saamaa..' desahku, nyaris putus asa. Tubuhku ambruk di lantai porselen, lunglai. Tiba-tiba HPku berdering, Ia telah bernyanyi dengan nyaringnya. Dan aku sangat tahu, siapa yang membuatnya bernyanyi.
'Sai..' Ia tahu saat-saat aku membutuhkannya. Benar, dalam lumuran darah yang merembes dari luka terkoyak di tanganku, aku melihat nama itu berkedip-kedip. Ku pencet tombol, pelan.
"Sakura, butuh berapa butir?"
Aku memejam mata.
"Sakura, kebetulan ada paket hemat, nih. Lima butir Cuma 3 Ryo. Murah sekali bukan? Gue anter ke apartement loe, ya!"
aku masih membisu.
"Ra.. Sakura! Loe dengar gak sih?"
Butir-butir bening membobol bendungan di mataku. Aku menggigil. Sakit itu begitu perkasa merobek prinsip yang barusan di goreskan dalam catatan jiwaku.
'Haruskah aku kembali padanya'
"Tidaaak..!" kuremas HP mungil itu. Ku lemparkan benda yang tidak berdosa itu ke dinding, hingga tak berbentuk. Dan kesakitan itu kembali mengoyak, membuatku terlempar dalam kenekatan yang brutal. Ku bentur-benturkan kepalaku ke dinding keras.. keras.. Di saat seperti ini, aku jadi mengingat kejadian silam.
Flasback
Haruno Sakura namaku. Siapa yang tak mengenal sosokku. Kata orang, aku cantik dan gaul. Meski terlihat lembut, siapa yang menyangka jika aku jago ngebut? Mungkin orang akan berdecak kagum dalam kesan pertama. Namun selanjutnya, mereka akan manggut-manggut maklum, ketika menyadari bahwa sosokku memang brutal.
Di sekolah, aku bergabung dengan Sasuke cs, membentuk sebuah grup band. Aku satu-satunya cewek dan pegang Drumer. Siapa bilang gebukanku kalah mantap dari rekan putra? Buktinya sang vokalis, Sasuke, selalu meloncat-loncat histeris di panggung, melantunkan lagu-lagu metallica, mengikuti gempuran drum yang di babat habis oleh stik yang di gerakkan jemari lentikku.
Keluargaku sebenarnya cukup mentereng . Papa penulis novel terkenal, Mama ketua medis di Rumah Sakit ternama. Jika mau, aku tidak pelu berpanas-panas di atas trail bopengku. Sebuah Limousin putih mulus, di sediakan khusus intuk Haruno Sakura. Seabrek fasilitas lainpun siap menjadi aksesoris yang membuat kehidupanku makin praktis dan jelas bernuansa selebritis.
Namun, aku ternyata memilih kabur dari kementerengan itu. Kabur karena kementerengan itu ternyata hanya sekedar akuarium.
"Bagaimana gue bias menikmati, Sasu." Keluhku pada sang vokalis, Sasuke. "Gue nyaris nggak pernah bertemu Bokap dan Nyokap. Mereka sibuk kerja. Pagi, pukul enam, gue siap-siap berangkat sekolah, dan mereka belum bangun. Malam, pukul sembilan, gue tidur dan mereka baru pulang pukul sebelas malam. Tiap hari gituuu terus. Siapa yang nggak bete?"
"Kakak loe?"
"Dia punya dunia sendiri."
Tepatnya, kak Sasori dengan geng Akatsukinya. Aku sendiri sibuk dengan band dan segala impian yang terkadang begitu abstrak ku pandang.
"Kalau gitu, nasib kita sama, Saku." Keluh Sasuke. "Gue juga jarang banget ketemu ortu. Tahu tuh, apa sih, yang sebenarnya mereka cari?"
Sasuke, kesamaan nasib membuat kami dekat. Nasib Sasuke, bahkan lebih ,mengerikan. Kakak sulungnya cewek, kak Shizune, pernah aborsi 3 kali. Pertama, dia makan sambal super pedas. Kedua, aborsi lewat jasa dokter dan kehamilan terakhir, dengan memukul-mukul bagian atas pinggulnya, hingga bayi dalam kandungannya pun gugur. Aku bergidik ngeri mendengar cerita Sasuke. Apalagi aku tahu, kakak sulung Sasuke masih duduk di semester dua bangku kuliahan. Kakak kedua cowok, Kak Itachi, konon Bandar Narkoba. Berkelas, namun entah kenapa, selalu lolos dari kejaran aparat.
Sasuke sendiri, ia junkies sejak SMP. Dialah yang memperkenalkan pil-pil setan itu kepadaku. Semula hanya sekedar pil BK, lama-lama ecstasy, bahkan putauw.
Maka hari-haripun terlewati dalam nuansa kegelapan. Sakura telah redup dalam cahaya malam. Dan ketika satu persatu berita duka hinggap di jiwaku, mendadak aku sadar bahwa aku berada di jalan yang salah.
"Sakura, Kiba meninggal, over dosis."
Kiba adalah Basist grup band kami. Ia menenggak lima butir ecstasy sekaligus di campur dua botol whisky. Aku menyaksikan tubuh membiru itu menutup mata dengan wajah menghitam, tampak kesakitan.
Pukulan pertama, belum terlalu menghentak.
"Sakura, Naruto.."
Lagi-lagi meninggal, lagi-lagi over dosis. Ia memegang keyboard. Kini tinggal aku dan Sasuke yang tersisa. Sisa yang di cekam bayang-bayang hitam.
"Gue pengen berubah, Sakura." Suara Sasuke serak, denagn air mata berderai. "Gue pengen jadi orang baik."
Saat itu, kedua orang tua Sasuke resmi barcerai. Karena kalut, ia melarikan trailnya dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya, dua butir depressan ia telan. Akupun mengejarnya dengan motor banditku.
"Sasuuukeee… Loe lagi teler. Jangan ngebuuut…!"
Terlambat! Sebuah truk besar tiba-tiba muncul dari tikungan. Benturan keras, darah memuncrat, tubuh yang remuk.. Aku limbung.
"Gue pengen berubah, Sakura." Suara itu terngiang-ngiang di telingaku.
END OF Flashback

Ketika gelap itu sudah terkikis cahaya, aku merasa tubuhku sedikit ringan. Aku bangkit perlahan, mengeliminir nyeri yang menghujam. Sampai kapan aku seperti ini.
Peristiwa gelap itu telah lewat, dua tahun silam. Menimbulkan trauma yang membuat aku nyaris terkena shcyzoprenia dan ingin menyusul ketiga sahabatku dengan cara menyayat pergelangan tanganku. Untunglah Ino dan Shikamaru datang dan menyadarkanku. Kini, aku duduk di semester tiga di sebuah Universitas di kota Tokyo. Menjadi manusia baru yang ternyata begitu sulit. Setidaknya karena aku memulai dari minus. Hasilnya, baru beberapa bulan saja aku benar-benar bisa menghindar dari pil setan itu. Apalagi Sai selalu datang pada saat yang tepat. Ia seperti tahu, kapan aku membutuhkan pil-pil itu.
Lantas, akupun menjadi orang termunafik. Selama setahun menjadi anggota PMI kampus, aku masih seorang pecandu narkoba.
Kulap darah yang memercik di dinding dan lantai. Lantas, luka di tangan ku olesi betadine, nyeri. Bahkan, aku tidak mau orang tahu jika Haruno Sakura adalah seorang mantan…
"Tok.. tok… tok…!" pintu kamar di ketuk. Aku termangu sesaat.
"Sakura-nee! Ada tamu!"
'Sai? Tidak.. jangan!'
"Ino-nee!"
'Anggota PMI kampus itu?' bergegas ku buka pintu, keluar. Lantas, kudapati sosok itu tersenyum menatapku. Di tangannya tampak setumpuk proposal.
"Kok pucat?" ku coba membalas senyumnya. Terasa pahit.
"Kenapa tanganmu, Ra?" ia tampak kaget malihat memar berdarah itu.
"Berlatih kungfu." Jawabku ringan, terkesan bergurau. Sekuat tenaga berusaha menyembunyikan gerai masa lalu yang sampai kini masih kuat mencekam. Ino, teman sekampusku tampak penasaran.
"Kita ke dokter, yuk! Lukamu sepertinya serius." Aku nyegir.
"Ada tugas untukku tuan putri?" lirikku pada setumpuk proposal di tangannya. Namun, ia tampak ragu.
"Kau sedang sakit begitu."
"Siapa yang sakit? Sehat begini."
Akhirnya Ino pun terpaksa per caya.
'Sai? Untuk apa ia datang padaku?'
"Loe gak usah munafik deh, Ra. Jujur, loe masih butuh, kan?" Aku tersenyum sinis.
"Kalau harga yang gue tawarkan terlalu tinggi, khusus buat loe, gue turunkan deh, diskon sampai lima puluh persen. Gila-gilaan memang. Tapi, setia kawanlah."
"Benar, kamu setia kawan, mestinya kamu nggak usah tawar-tawarin obat setan itu sama aku. Aku sudah berubah tahu?"
Wajah Sasuke, Naruto dan Kiba melintas. Tragedi mereka masih menyisakan celah gelap di jiwaku. Entah kapan, celah itu tersentuh cahaya hingga aku mampu menyunggingkan senyum dengan sempurna.
Sai tampak kecewa.
"Gue Cuma kasihan membayangkan loe lagi sakaw. Loe perlu obat.."
"Dan obat itu bukanlah pil-pil setan."
Sai, kakak kelasku di SMA, pemasok obat grup bandku, yang kebetulan kuliah di Tokyo itu, garuk-garuk kepala. Dengan tampang tanpa dosa, yang membuat aku mendadak ingin meremukkan badannya dan memasukkannya ke dalam mesin penggilingan. Tiga nyawa sahabatku telah tercabut gara-gara obat yang ia cekokkan.
"Udah, Sai. Kamu nggak perlu hadir dalam kehidupanku. Kalau tidak, aku tidak segan-segan lapor polisi."
Ia tampak kaget. "Loe akan tahu, apa yang akan terjadi jika loe lapor, Sakura!" ancamnya.
"Makanya, nggak usah kamu ganggu aku lagu."
Ia mendengus kecewa, 'Sakura, harusnya loe tahu karena selama dua tahun, loe termasuk pemasok uang terbesar lewat keuntungan perdagangan haram ini. Uang saku yang bokap loe kasih ke loe lebih dari cukup, meski untuk nge-drugs yang butuh nilai nominal seabrek.' Batin Sai.
"Jadi, bapak Palang Merah Sedunia adalah…" mendadak ucapanku terputus begitu merasakan… kami-samaa… tamu itu… rasa sakit itu… datang pada saat…
Keringat mengucur deras di dahiku. Kami-sama, jangan sampai teman-teman mentoringku tahu jika Haruno Sakura yang anggota PMI kampus dan kandidat ketua PMI kampus, yang alim dan murah senyum, yang cantik dan baik hati itu, ternyata..
Ku kepalkan tangan, ku pejamkan mata, kuat-kuat..
"Sakura… Sakura.." kelima temanku tampak panik. Sekuat tenaga ku tahan rasa sakit itu. Tubuhku bergetar hebat.
"Sakura.." panggil Ino cemas
"Antar aku ke apartementku."
"Saku.."
Aku roboh tak berdaya.
"Ra, jadi kau.." Ino dan Shikamatu tersentak kaget. Aku terisak, sakit. Yah,akhirnya mereka mengetahui siapa sebenarnya aku. Haruno Sakura, the rising star itu ternyata mantan junkies.
"Itulah aku, Ino.. Shika.." suaraku serak. "Terserah jika PMI kampus akan mengeluarkanku dari kepengurusan."
"Sakura.." tiba-tiba Ino memelukku. "Tenang saja, kami akan membantumu, iya kan, Shika?"ujar Ino sambil melirik Shikamaru.
"Hoam.. Sebenarnya itu sangat merepotkan. Tapi, apa salahnya membantu sahabatku?" ucap shikamaru tersenyum tipis.
"Terima kasih.." tangisku pecah. Kurasakan nyaman jetika berada di dekapan gadis pirang itu, sampai kembali kudapati.. tamu itu datang lagi. Sakaw! Entah kapan aku sembuh. Entah kapan.
Sakit yang menyengat… Bunyi HP.. Sai…

~ OWARI~

Perjuangan Cinta

Summary :
Shikamaru seorang mahasiswa yang hidup sebatang kara,mencintai Ino, anak seorang pengusaha sukses. Dapatkah mereka bersatu?
Perjuangan Cinta
By : Nara 'Diaz' anezAki
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, abal, gaje, maybe Typo. Don't Like Don't Read

Normal POV
Pagi hari yang cerah. Terlihat sebuah gedung mewah berisikan manusia-manusia yang haus ilmu. Ya, itulah Konoha High. Di sanalah seorang pemuda bernama Nara Shikamaru bersekolah.
Hari ini, Shikamaru tampak tengah berjalan tergesa-gesa. Entah apa yang membuatnya ingin pulang cepat hari itu. Dia langsung beranjak dengan terburu-buru dari perpustakaan setelah menyelesaikan satu makalahnya. Pemuda itu tidak sempat memperhatikan, kalau dari depan ada seorang gadis juga tengah berjalan menuju perpustakaan. Tabrakan pun tidak bisa di hindari lagi.
" Shikamaru!"seru gadis yang di tabrak lelaki itu dengan lirih dan sangat terkejut bercampur heran.
"Maaf... Maaf Temari..." ucap Shikamaru sedikit tergagap setelah mengetahui siapa gadis di depannya.
"Kamu kelihatan terburu-buru?"selidik Temari sembari menatap lekat wajah Shikamaru yang tampan.
Walau bagaimanapun, gadis manis itu merasakan sesuatu yang aneh berdesir dihatinya. Apalagi selama ini dia menyimpan perasaan istimewa pada pemuda itu. Sudah lama gadis kelahiran Suna ini, kagum pada Shikamaru. Sejak pertemuan pertama mereka di salah satu kegiatan kemanusiaan yang di adakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam di Universitas itu.
"Ya, aku memang ingin lekas sampai ke rumah. Makanya aku terburu-buru sampai tidak melihatmu," tutur Shikamaru dengan jujur.
"Memangnya ada sesuatu yang menarik di tempatmu?" tanya Temari penasaran dengan tingkah laki-laki pujaannya.
"Tidak juga. Tapi perasaanku mengatakan kalau ada sesuatu di tempatku," Shikamaru menjawab sekenanya saja. "Sekali lagi, aku minta maaf, Tema..."
"Tidak apa-apa."
"Benar tidak apa-apa?"
"Lihat saja sendiri," Temari berdiri sambil menggerakkan kedua tangannya. Dia tersenyum sangat manis.
"Kalau begitu aku duluan ya!"
Temari hanya bisa menatap langkah-langkah Shikamaru.
'Ohh... Ada apa dengan diriku? Kenapa hatiku sangat damai bila berdekatan dengannya? Kenapa perasaanku tiba-tiba tak menentu seperti ini' lirih Temari sambil menatap Shikamaru yang mulai menghilang dari pandangannya.

Pada saat Shikamaru mamasuki apartementnya, laki-laki muda itu terkejut. Dia melihat seorang gadis berambut pirang mengenakan seragam SMA, sedang menunggunya di depan pintu. Gadis itu adalah Yamanaka Ino, siswi kelas 3 SMA Konohagakuen. Anaknya periang dan sedikit manja. Pertemuan mereka secara tidak sengaja di dekat Supermaket.
Flashback
Ino terjatuh karena merasa kakinya sakit. Shikamaru membantunya untuk berdiri, karena kebetulan melihat Ino.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Shikamaru.
"tidak. Hanya kakiku tiba-tiba sakit. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa," jawab Ino berusaha tersenyum. Shikamaru merasakan pipinya memanas. Ia segera memalingkan mukanya.
"Benar sudah tidak apa-apa?" Shikamaru menatap lekat wajah cantik Ino. Senyumnya mengembang.
"Ya, terima kasih. Oh ya, nama saya Yamanaka Ino. Panggil saja Ino. Saya sekolah di SMA Konohagakuen."
"Shika… Shikamaru Nara," lelaki muda itu mengulurkan tangannya dengan sedikit gugup.
"Boleh aku tahu, kakak tinggal di mana?"
"Apartement Konoha 3."
END Of Flashback
Begitulah pertemuan pertama itu terjadi begitu saja. Namun sangat membekas di hati kedua muda-mudi itu. Benih-benih cinta itutumbuh subur. Sampai Shikamaru mengerti kalau Ino anak orang kaya.
"Eh, Ino. Sudah Lama?" tanya Shikamaru. Di tanya begitu, gadis itu memasang muka cemberut. Dia malah membuang muka, ketika lelaki muda itu menatapnya.
"Hei... Di tanya, kok cemberut gitu. Jelek tahu!" goda Shikamaru sembari tertawa. Dia tahu sifat gadis manja ini.
"Lagian, sudah tahu sendiri, malah nanya begitu. Lihat keringat Ino nih!" sergah Ino sewot.
"Kakak kemana saja sih. Jam segini baru pulang?" ujar gadis itu masih memasang tampang sewotnya.
"Hei... Sejak kapan gadis yang manja ini mulai memperhatikanku? Tentu saja aku kuliah!" ledek Shikamaru menggoda.
"Nah, mulai lagi kan!" sentak Ino dengan memasang muka marahnya. Matanya melotot seperti mau lompat dari tempatnya. Tapi Shikamaru yang di pelototi malah tersenyum.
'Ah, wajahmu tetap saja cantik Ino. Walaupun kamu marah seperti itu' gumam Shikamaru.
"Sudahlah. Aku minta maaf. Ngomong-ngomong, ada apa sehingga kamu datang padaku?" tanya Shikamaru
"Aku sebal sama temen sekelasku."
"Lelaki atau perempuan?"
"Lelaki. Namanya Sai."
"Kenapa memangnya?"
"Tadi di sekolah dia mendekatiku. Dia mengatakan sesuatu yang membuat aku emosi" ujar Ino.
"Memangnya dia mengatakan apa kepadamu?" tanya Shikamaru.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Ino terdiam. Dia ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Dia bilang, kalau dia mencintaiku." Tutur Ino sambil menundukkan kepalanya.
Shikamaru tersenyum getir mendengar penuturan Ino. Dalam hatinya, ada getaran kenyerian. Ia mencintai Ino, tapi ia merasa tidak pantas bersanding dengan Ino. Ia hanya seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa. Sedangkan Ino, anak orang kaya. Ayahnya pengusaha, Ibunya seseorang yang memiliki jabatan strategis di salah satu instansi pemerintah.
"Itukan wajar. Kenapa kamu marah padanya?" tanya Shikamaru.
"Tapi aku tidak mencintainya. Karena aku mencintai kakak," tutur Ino.
"Kamu bercandakan Ino? Kamu tidak sungguh-sungguh mengatakan itu kan?" ucap Shikamaru tidak percaya.
"Aku serius Shika. Tataplah mataku lebih dalam lagi," ungkap gadis itu. Tubuhnya bergetar menahan segala rasa yang berkecamuk di dadanya.
"Ya, aku menangkap kesungguhan itu. Tapi, kamu akan menderita dengan kenyataan ini, Ino."
"Aku siap menemanimu, Shika. Aku akan memperjuangkan cintaku ini."
Gadis itu kemudian memeluk Shikamaru dan menyembunyikan wajahnya di dada Shikamaru.
"Sudahlah Ino. Aku tidak ingin melihatmu bersedih."
Ino mengangkat wajahnya, menatap Shikamaru dengan mata yang masih basah,
"Katakan, Shika... Katakan kalau kamu tidak mencintaiku!" teriak Ino.

Shikamaru menjadi gemetar mendengar permintaan Ino. Tangan Kanannya terangkat tanpa sadar. Lalu dia mengusap pipi gadis itu dengan tangan masih gemetar. Dia berusaha menyusut beningan kristal di pipi halus itu. Ino sangat mencintainya, dan Shikamaru sendiri akan semakn menderita bila ia membohongi perasaannya.
"Aku juga mencintaimu, Ino, tapi..." Shikamaru tidak meneruskan ucapannya karena telunjuk Ino menempel di bibirnya. Gadis itu memberikan isyarat kalau Shikamaru jangan meneruskan ucapannya.
"Aku mencintaimu Shika. Aku tidak menilai orang dari segi materi. Bagiku, kak Shika mencintaiku, itu saja sudah cukup."
"Terima kasih Ino."
"Kau tahu Shika. Aku sangat bahagia hari ini."
Ino kembali memeluk Shikamaru. Kali ini sangat erat, seperti tidak ingin laki-laki itu pergi dari sisinya. Sedangkan Shikamaru mencoba mengalirkan segala kerinduannya selama ini dengan mengecup kening gadis yang ada di hadapannya. Kini ketulusan itu sangat nampak di antara insan yang kini di rasakan mereka berdua.

~ Owari ~