Senin, 10 Oktober 2011

The Mean Of Friendship

Title :
The Mean Of Friendship
Disclaimer : ® Masashi Kishimoto
Story by : ®Ai Kireina Maharanii
Warning :
AU, OOC, ABAL, Maybe Typo (s), Full Normal POV, NOT YURI.
Don't Like? Don't Read.
Rated : T
Genre :
Friendship / Hurt/Comfort / Tragedy
Pairing :
SasuSaku, slight ShikaIno
Summary :
Ino – Sakura – Ten-Ten. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak mereka kecil, hingga sekarang mereka sudah kelas XI SMA. Suatu ketika, Sakura di hadapkan oleh 2 pilihan, yakni Ia harus memilih antara Sahabat dan Kekasih.
Apakah yang akan Sakura pilih?
Akankah persahabatan mereka akan tetap terjaga?
This Fic special for OFF (Oneshot FanFiction Festival)
Cerita ini diambil dari pengalaman pribadi Author
O.K This Is Story..
Happy Reading…^_^
.
.
.
"Sakura…" sapa Ino pada Sakura ketika Sakura berjalan di koridor sekolah, dan hendak memasuki ruang kelasnya bersama Ten-Ten.
"Hai Ino, ada apa?" jawab Sakura ramah dan dengan senyuman manisnya.
"Hai Ino!" sapa Ten-Ten yang sedang berada di samping Sakura.
"Hai! Kalian habis darimana?" tanya Ino sambil melirik ke arah tumpukan buku yang di bawa Sakura.
"Kami baru saja dari Perpustakaan. Dan bagaimana dengan rapatmu?" ujar Sakura lembut.
"Melelahkan juga ternyata menjadi seorang Ketua OSIS," gerutu Ino, yang hanya di balas senyuman maklum dari Sakura dan Ten-Ten.
Mereka bertigapun akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama menuju ruang kelas mereka sambil mengobrol. Saking asyiknya mereka mengobrol, sampai-sampai mereka tidak memperhatikan jalan dan menabrak seorang pemuda berambut raven dark blue dan bermata hitam onyx yang sedang berdiri di dekat pintu kelasnya.
"Eh, maaf-maaf…" ucap Ino meminta maaf karena telah menbraknya hingga terjatuh.
Sementara itu, Sakura dan Ten-Ten hanya cengo saja melihat mereka berdua terjatuh. Setelah selesai meminta maaf, Ino mendongakkan kepalanya. Ia tak mengira kalau pemuda yang Ia tabrak ternyata Uchiha Sasuke, Kakak kelas mereka serta pria pujaan Ino dan juga Sakura. Namun Ino tidak mengetahui jika Sakura juga mencintai Sasuke.
"I-Ino…" celetuk Sakura membuyarkan lamunan Ino.
"Hn," gumam Sasuke lalu bangkit dari duduknya, dan pergi masuk ke dalam ruang kelasnya.
"Sakura, Dia makin cool aja!" seru Ino histeris dalam perjalanan mereka menuju kelas.
'Ino, maafkan Aku…' batin Sakura menyesal.
"Kamu ini… ayo cepat masuk. Kena marah Anko-sensei baru tahu rasa Kau…" geram Ten-Ten karena sedari tadi Ia tak di hiraukan.
"Huh, yasudah. Ayo…" Ino mendengus kesal dan kembali meneruskan langkahnya memasuki kelas.
.
.
Di kelas, karena Anko-sensei, guru Mata Pelajaran terakhir mereka belum juga datang, para Siswa-Siswi malah asyik mengobrol satu sama lain, dan membuat suasana di dalam kelas menjadi gaduh.
"Sakura, apakah mungkin Sasuke-senpai menyukaiku?" ujar Ino dengan mata yang berbinar-binar.
Sakura melihat ke arah Ino dan menaikkan sebelah alisnya,"Maksudmu?"
"Tadi kan Dia tidak memarahiku ketika Aku menabraknya," ujar Ino dengan mata yang masih berbinar-binar.
Sakura menghela napas,"Jadi Kamu masih mengharapakannya?"
"Hei Ino lihat itu! Sasuke-senpai lewat…" sela Ten-Ten di tengah-tengah obrolan Sakura dan Ino.
"Ten-Ten, dudukmu itu sudah di belakang, tapi masih saja Kamu bisa melihatnya," Sakura mendengus kesal.
"Jadi Kamu mau duduk disini? Tidak apa. Aku justru senang bisa duduk dengan Ino," goda Ten-Ten dan sukses membuat Sakura semakin kesal.
'Bukan itu maksudku' geram Sakura dalam hati. Karena tidak mungkin jika Sakura mengatakannya. Sedangkan Ino, Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri memikirkan Senpai idolanaya itu.
"Ino, Anko-sensei sudah datang," ucap Sakura dan berhasil menyeret kembali pikiran Ino.
Inopun hanya memberikan senyuman manisnya dan siap menyimak pelajaran Biologi yang akan di ajarkan Anko-sensei.
Kini giliran Sakura yang melamun,'Ino, bukankah masih banyak Senpai-Senpai lain yang lebih jenius dan lebih keren dari Sasuke? Contohnya saja Shikamaru, Neji, Shino, Sai dan Naruto. Bukankah mereka cukup terkenal di kalangan murid-murid lainnya? Aku hanya tak ingin Kamu sakit hati Ino,' rutuk Sakura dalam hati sambil terus memandangi Ino dan tak menghiraukan pelajaran yang di ajarkan Anko-sensei. Sampai-sampai Ia tak sadar jika bel pulang Sekolah sudah berbunyi nyaring.
"Sakura?" ujar Ino mengagetkan Sakura. "Kamu melamun?"
"Eh, ti-tidak. Mana Anko-sensei?" kata Sakura canggung karena Ia melihat seisi kelas yang mulai kosong.
Ino memutarkan bola matanya,"Kamu ini kemana saja? Sekarang sudah waktunya pulang Sakura…" gerutu Ino melihat tingkah Sakura yang aneh itu.
"Sudah pulang ya? Hehehe…" kata Sakura tertawa hamar.
'Aku harus cepat-cepat menghubungi Sasuke,' tekad Sakura dalam hati kemudian mengambil ponselnya dan segera menuliskan pesan untuk Sasuke.
To : Uchiha Sasuke
Messages : Sasu, tunggu Aku di Café Akatsuki milik Itachi-Kakakmu itu sekarang. Dan pergilah duluan tanpaku. Aku masih ada sedikit urusan dengan Ino.
Sent.
"Ino, Ten-Ten ayo pulang!" ujar Sakura menarik lengan Ino dan Ten-Ten secara bersamaan.
DRRT… DRRT… ponsel sakura bergetar.
1 New Messages
From : Uchiha Sasuke
Messages : Hn, baiklah Aku tunggu.
Setelah membaca pesan dari Sasuke, Sakura pun menyimpan kembali ponselnya di dalam tas. Dan melanjutkan kembali langkah kakinya menuju Café Akatsuki.
.
.
"Ino Aku ada urusan. Jadi sampai disini saja ya!" pamit Sakura ketika mereka bertiga sudah sampai di pertigaan. Sakura mengambil arah yang berbeda dengan Ino dan Ten-Ten karena Ia akan menemui Sasuke di Café Akatsuki yang letaknya sedikit terpencil di kota itu.
"Ya sudah hati-hati ya Sakura!" jawab Ino sambil melambai-lambaikan tangannya dan diikuti Ten-Ten.
.
.
Sesampainya Sakura di Café Akatsuki, Ia mencari sosok seorang Uchiha Sasuke. Setelah cukup lama mengamati, akhirnya Ia menemukan juga keberadaan Sasuke dan segera menghampirinya. "Go-gomen lama," sapa Sakura lalu duduk di kursi sebelah Sasuke.
"Bagaimana dengan Ino?" ucap Sasuke membuka pembicaraan diantara mereka.
"Sasu, apakah kita akan terus menyembunyikan hubungan kita dari Ino? Semakin lama, Ia semakin berharap banyak padamu," lirih Sakura.
"Saku, cepat atau lambat Kamu harus segera memberitahunya. Semakin lama Ia mengetahuinya, maka Ia akan semakin sakit hati," Sasuke membelai lembut rambut buble gum Sakura.
"A-Aku tidak sanggup,"
Sasuke memegang telapak tangan Sakura,"Kamu bisa Sakura. Yakinlah,"
Sakura berfikir sejenak,"Baiklah, akan Aku katakan padanya besok sepulang Sekolah,"
Sasuke tersenyum tipis,"Ayo pulang," ajak Sasuke ramah. "Aku antar,"
Sebuah senyuman yang amat manis terlukiskan di wajah ayu Sakura,"Arigatou Sasuke," ujar sakura kemudian menyusul Sasuke yang sudah duluan menuju mobilnya.
.
.
Keesokan harinya, Sakura bangun kesiangan.
"Sakura, cepat sarapan Nak! Nanti Kamu bisa terlambat," perintah Ibu Sakura-Tsunade yang tengah menyiapkan sarapan.
"Sebentar Kaa-san…" jawab Sakura tergesa-gesa menuruni tangga. "Aku berangkat!" pamit Sakura setelah meminum segelas susu yang sudah disediakan Ibunya dan menyambar roti tawar.
"Sarapan yang benar…"
"Aku sudah telat Bu!" ujarnya dari kejauhan dan terus berlari kearah Sekolah kesayangannya-Tokyo High School.
"Sakura…" sapa seorang pemuda dari dalam mobil Ferrari hitam miliknya.
Sakura menghentikan langkahnya,"Hai!" jawab Sakura ramah.
"Kenapa jalan?"
"Huft, kan jarak antara Rumahku dan Sekolah dekat. Jadi, lebih enak jalan kaki," ujar Sakura semangat.
"Ini sudah siang, ayo ikut!" Sasuke memaksa.
"Kau sendiri juga kesiangan…" jawab Sakura tak mau kalah.
"Kalau Aku, berangkatnya pake mobil," ujar Sasuke datar. "Mau ikut tidak?"
"Baiklah Aku ikut. Tapi…" Sakura menggantungkan kata-katanya. "Aku turun di depan Sekolah sebelum gerbang,"
"Hn, yasudah,"
Mereka pun pergi ke Sekolah bersama menggunakan mobil Ferrari hitam milik Sasuke.
.
.
"Ino!" teriak Ten-Ten dari kejauhan lalu menghampiri Ino yang tengah berjalan di korridor Sekolah.
"Apa?"
"Ino kemarin Aku lihat Sasuke-senpai dan Sakura di Café Akatsuki," celetuk Ten-Ten.
Ino menoleh dan menaikkan sebelah alisnya,"Hm, mana mungkin," jawab Ino santai tak percaya.
"Tapi, mereka mirip sekali dengan Sasuke-senpai dan juga Sakura. Apa mungkin Aku salah lihat?" ujar Ten-ten bingung.
Ino menghela napas. Sebenarnya Ia percaya saja pada ucapan Ten-ten. Tapi, Ia pikir Sakura tak mungkin melakukannya,"Mungkin Kamu salah,"
"Hm, mungkin saja," kata Ten-Ten. "Eh itu Sakura sudah datang!"
"SAKURA!" seru Ino dan Ten-ten bersamaan.
'I-itu kan mobilnya Sasuke-senpai?' batin Ino ketika melihat mobil Sasuke memasuki halaman Sekolah setelah Sakura memasukinya terlebih dahulu. Mereka berduapun menghentikan langkah mereka dan menunggu Sakura untuk berjalan memasuki kelas secara bersama-sama.
"Ohayou Ino! Ohayou Ten-Ten…" sapa Sakura bersahabat.
"Ohayou!" jawab Ino dan Ten-Ten serempak. Mereka bertigapun melanjutkan langkah kaki mereka menuju kelas.
"Hei Ino! Itu kan Sasuke-senpai. Kenapa Ia datang siang ya?" celetuk Ten-Ten dengan tampang tak berdosa.
"Entahlah," Ino menjawab ketus.
"Biarkan saja. Ayo duduk!" ajak Sakura ketika mereka sudah sampai di depan kelas.
Inopun langsung duduk mendahului mereka berdua. Sedangkan Sakura dan Ten-Ten malah saling tukar pandang. "Kenapa?" tanya Sakura dengan nada yang sangat pelan. Tidak ada jawaban dari Ten-Ten. Yang ada, Ten-Ten hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.
.
.
Waktu belajar di Sekolahpun telah usai. Kini saatnya para siswa-siswi Tokyo High School pulang dan beristirahat di rumah mereka masing-masing.
DRRT… DRRT… ponsel Sakura bergetar.
1 New Messages
From : Uchiha Sasuke
Messages : Saku, Aku ke kelasmu sekarang.
'Apa?' gumam Sakura panik namun pelan.
"Sakura, apa Kamu baik-baik saja?" ucap Ino cemas dan mengagetkan Sakura.
"Eh, errr… A-Aku baik-baik saja," jawab Sakura sekenanya. Baru saja Ia mau menjawab pesan dari Sasuke, akan tetapi Sasuke sudah berada di depan pintu kelas Sakura, dan juga memanggil namanya,"Sakura!"
Semua siswa yang masih berada di dalam kelaspun cengo, terkecuali Ino dan Ten-Ten. Sedangkan Sakura, kini wajahnya sudah sangat merah, semerah kepiting rebus.
"Sa-Sasuke-senpai…" ujar Sakura sedikit gugup.
Sasuke memberikan sebuah kode untuk Sakura lewat kedippan matanya. Sakura mengangguk mengerti dan segera menghela napas panjang,"Ino… A-Aku ingin meminta ma-maaf padamu,"
"Maksudmu?" Ino menjawab dengan nada kesal.
Sakura menundukkan kepalanya,"A-Aku… adalah ke-kekasih Sasuke-senpai," jelas Sakura tergagap layaknya Hinata.
Ino dan Ten-Ten diam seketika. Apalagi semua murid yang masih ada di dalam kelas.
Mata Ino mulai bekaca-kaca. Perasaannya kini campur aduk. Antara bingung, sedih, kesal, kecewa, dan marah membuat tubuh Ino sedikit bergetar,"K-Kau bohongkan Sakura?"
Sebelum Ino meneteskan air matanya, Sakura sudah terlebih dulu mengeluarkan air matanya. Sakura menggelengkan kepalanya lalu menatap lembut Ino. Sedangkan Ten-Ten, Ia hanya diam saja karena Ia tak terlibat sedikitpun dalam kisah cinta Ino dan juga Sakura. Karena Ia sudah memiliki kekasih hatinya, yakni Hyuuga Neji yang juga Kakak kelas mereka.
Ino bangkit dari duduknya,"Kau… Kau telah mengkhianati kepercayaanku Sakura. Kau juga telah menodai Persahabatan Kita. Aku tak percaya sakura. Tega sekali Kamu menyakiti Sahabatmu sejak kecil ini, hanya demi seorang Lelaki yang Kau sayangi Sakura. AKU KECEWA!" Inopun berlari keluar kelas dengan air mata yang benar-benar sudah membanjiri wajahnya.
Ten-Ten kemudian menyusul Ino. Setelah sebelumnya Ia berkata pada Sakura dengan tatapan kecewa,"Sakura, maafkan Aku. Aku pikir Kamu adalah Sahabat yang baik. Ternyata Aku salah Sakura!"
"Ino… Ten-Ten…! A-Aku minta maaf…hiks… hiks…" teriak Sakura mengejar kedua Sahabatnya.
Sasuke mendekat kemudian memeluk Sakura erat-erat. "Biarkan saja mereka. Tenangkan dirimu dulu Sakura. Masih ada besok," ucapnya lembut, "Ayo pulang!"
.
.
Hingga malam menjelang, Sakura masih saja menangis di dalam Kamarnya. Kamar yang bernuansa pink cerah itu kini berganti menjadi pink kusam. Sesekali Sakura menatap keluar jendela kamarnya yang tidak di tutupi tirai. Hujan yang amat deras mengguyur Kota Tokyo malam itu.
"I-Ino maafkan Aku hiks… Aku tak tahu harus hiks… bagaimana lagi hiks…" gumamnya sambil menatap sayu hujan di luar.
"Aku memang egois. Hiks… A-Aku memang bodoh. Hiks… aku hanya mementingkan diriku sendiri hiks…" gumamnya lagi dengan tangan meremas-remas boneka Teddy Bear kesayangannya.
"Aku bingung Ino…" teriaknya histeris dalam rintikan-rintikan hujan.
"Hiks… hiks… hiks…" tangisnya dalam kesunyian.
"Sakura ayo cepat makan!" teriak Tsunade-Ibu Sakura yang tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu kamar Sakura.
Dengan cepat Sakura menyeka air matanya yang mengalir deras di pipinya bagaikan hujan yang sedang mengguyur Kota Tokyo saat itu,"Baik Bu!" Sakura segera menghampirinya Ibunya yang sudah berada di depan pintu.
"Sakura, apa Kamu baik-baik saja?" tanya Tsunade cemas.
Sakura menggelengkan kepalanya,"Aku baik-baik saja Bu!" jawab Sakura berbohong dan sebisa mungkin tersenyum.
"Benar? Kalau begitu cepat makan dan segeralah tidur. Tou-san pulang nanti malam," perintah Tsunade dan kemudian mereka berduapun berlalu menuju ruang makan untuk makan malam.
"Baik Kaa-san…"
.
.
Keesokan harinya Sakura bangun seperti biasa.
"Sakura cepat bangun! Ini sudah pagi! Nanti Kamu bisa terlambat," teriak Tsunade dari depan pintu kamar Sakura.
Sakura terbangun karena suara Ibunya yang sangat berisik itu. Ia melirik sekilas jam weker yang ada di meja samping tempat tidurnya,"Huh, inikan baru jam 06.15," gerutu Sakura kemudian bangkit dari tidurnya dan menuju Kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya serta melakukan aktivitas paginya seperti biasa.
Setelah semua aktivitas paginya selesai, Iapun berdiri di depan cermin, 'Aku akan menjelaskannya hari ini juga,' tekad Sakura dalam hati kemudian berjalan keluar kamarnya dan segera menuruni tangga untuk sarapan pagi.
"Sasuke?" Sakura berdiri membatu di pinggir meja makan.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya,"Ayo cepat, ini sudah siang!" ajak Sasuke kemudian pergi menuju mobilnya.
Sakura sesaat cengo, tapi akhirnya Ia kembali tersadar dan meminum segelas susu serta menyambar asal roti tawar yang sudah di sediakan Tsunade lalu berpamitan pada Ibunya.
"Aku berangkat Kaa-san…" ucapnya kemudian berlari menemui Sasuke.
Sakura dan Sasukepun pergi ke Sekolah bersama. Dalam perjalanan, tak ada satupun diantara mereka yang memulai pembicaraan. Sampai akhirnya mereka sampai di Sekolah.
CKIIIT… mobil Sasuke terhenti di parkiran mobil Sekolahnya. Mereka turun dari bersama-sama. Kemudian Sakura berjalan menuju kelasnya di Kelas XI IPA 1. Sedangkan Sasuke pergi menuju kelasnya di Kelas XII IPA 1.
.
.
"Hi-Hinata?" Sakura heran melihat Hinata yang duduk di bangku milik Ino.
"Sa-Sakura, A-Aku di suruh Ino duduk denganmu,"jawab Hinata dengan wajah tertunduk.
Sakura tersenyum kecil,"Taka apa," ucapnya kemudian duduk di bangku miliknya di sebelah Hinata.
Ino dan Ten-Ten lewat di pinggir Sakura. "Ino…" sapanya ramah namun tak dihiraukan sama sekali oleh Ten-Ten dan juga Ino. Mereka berdua tetap berjalan lurus menuju bangkunya yang terletak di belakang Sakura.
'Apa Kamu masih marah Ino?' lirih Sakura dalam hati.
Jam pelajaran pertamapun di lalui Sakura dengan perasaan bersalah. Sehinggan Ia tidak fokus sedikitpun pada pelajaran itu. Jam istirahatpun sama. Sakura hanya diam saja di kelasnya.
Tett… bel pulang Sekolah berbunyi. Seluruh siswa-siswi Tokyo High School berhamburan keluar kelas.
Ino, Ten-Ten dan Hinata sudah terlebih dahulu pulang. Kini hanya tinggal Sakura dan beberapa murid lainnya saja yang belum pulang.
'Dimana Ino?' gumam sakura kebingungan. Ia tidak sadar jika Ino sudah pulang duluan.
"Sakura…" tiba-tiba saja Sasuke datang menghampiri Sakura di kelasnya.
Sakura tersenyum dan menghampiri Sasuke,"Ayo Sasu!" ajak Sakura. Mereka berduapun pergi menuju gerbang Sekolah.
Sakura melihat sekeliling mencari sosok Ino. 'Itu Dia!' gumam Sakura kemudian pergi menuju jalan raya yang terdapat tepat di depan Sekolah.
"Ino…" Sakura berlari mengejar Ino, Ten-Ten dan Hinata. Ia terus berlari tanpa memperhatikan jalan sedikitpun. Karena lelah, Ia kemudian terhenti tepat di tengah jalan. Ketika itu, ada sebuah mobil tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Sakura tak menyadari jika bahaya sudah di depannya.
Ino dengan cepat berlari menyusul Sakura di tengah jalan. Ketika mobil itu sudah dekat, dengan cepat Ino mendorong tubuh Sakura hingga membentur jalan. Sedangkan Ino, Ia tak punya cukup waktu untuk menghindar. Sehingga Ia tertabrak oleh mobil tersebut dan terlempar membentur trotoar jalan.
Sakura diam sesaat, begitu juga Ten-Ten, Hinata dan Sasuke. Sedangkan mobil tadi malah pergi setelah menabrak Ino. Tak lama kemudian, Sakura segera berdiri lalu berlari kearah Ino sambil berteriak histeris,"INO…." Ten-Ten dan Hinatapun menyusul Sakura.
"Ino… bangun…" suara Sakura serak. Air matanya pun mulai menetes membasahi pipi mulusnya. "I-Ino maafkan Aku… hiks… Ino bangun…" Ia berkata lirih.
Sasuke menghampiri Sakura dengan mobil Ferrari hitam miliknya,"Sakura cepat bawa Dia ke Rumah Sakit!" perintah Sasuke kemudian membawa Ino masuk ke dalam mobil Sasuke.
Sasuke ditemani Sakura Ten-Ten dan Hinta pergi menuju Rumah Sakit terdekat.
"Ino bertahanlah…" gumam Sakura di perjalanan.
Tak ada satupun di antara mereka yang bersuara. Yang terdengar hanyalah suara mesin mobil Sasuke serta tangisan Sakura.
.
.
"Suster tolong…" teriak Sakura ketika sudah sampai di depan Rumah Sakit.
Tak lama kemudian muncullah dua orang Perawat membawa Blangkar dorong. Dengan segera mereka membawa Ino menuju Ruang UGD untuk di periksa dan di beri Pertolongan Pertama. Sedangkan Sakura dan yang lainnya tidak diperbolehkan masuk sehingga mereka semua hanya bisa menunggu dari luar.
Setelah beberapa menit kemudian, Dokter yang tadi memeriksa Ino pun keluar.
"Ba-Bagaimana Dok?" Sakura bertanya secepat kilat setelah Dokter tadi keluar.
Dokter itu menghela napas,"Ia baik-baik saja. Tapi, Ia belum sadar," jelas Dokter tadi.
Sakura kembali menangis. Karena Sasuke tak ingin Sakura terus-menerus menangis, akhirnya Ia pun ikut bertanya,"Apa Kami boleh masuk?"
Dokter itu tersenyum,"Silahkan. Asalakan Kalian tidak membuat ribut," ujar Dokter tadi kemudian Iapun berlalu entah kemana.
Sasuke memeluk Sakura lalu membawanya masuk menemui Ino.
"Ino…" kata Sakura kemudian memeluk tubuh Ino. sedangkan Ten-Ten dan Hinata hanya diam saja.
"A-Aku sadar… tanpa kehadiran seorang sahabat, hidup itu sulit Ino hiks…" ucap Sakura sambil membelai rambut pirang Ino.
"Sadarlah Ino. Kami disini, dan akan selalu bersamamu," ucap Ten-Ten sambil memegang telapak tangan Ino.
"I-Ino…" Hinata tak ingin mengacaukan suasana. Maka Ia memilih diam saja.
.
.
Setelah beberapa jam mereka menunggu, akhirnya Ino sadar. Perlahan kelopak matanya pun terbuka melihat sekeliling,"Sa-Sakura…" ucapnya lirih.
"Ino Kamu sudah sadar?" Sakura tersenyum lega.
"Ino, Kami semua menyayangimu…" kata Sakura dan Ten-Ten bersamaan lalu memeluk tubuh Ino yang masih lemas.
Ino tersenyum,"Aku juga menyayangi kalian…"
"I-Ino… maafkan keegoisanku. A-Aku terlalu bodoh untuk hal semacam ini. Aku berjanji tak akan pernah menukar lagi seorang sahabat dengan seorang pacar. I need you friend…" jelas Sakura menyesal.
"Taka apa Sakura. Harusnya Aku yang meminta maaf. Aku senang jika Kamu bahagia dengan Sasuke-senpai," tutur Ino dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Ta-tapi Ino…" dengan cepat Ino menutupi bibir Sakura dengan jari telunjuknya.
"Sudahlah Sakura, berbahagialah dengan Sasuke-senpai. Karena Aku sudah mempunyai penggantinya,"
"Siapa?" ujar Sakura dan Ten-Ten serempak.
Ino tertawa kecil,"Dia juga Senpai Kita…"
Flashback
Ino berlari keluar kelas dengan air mata yang berderai. Ten-Ten mengikutinya dari belakang. Ternyata Ino menuju sebuah bukit kecil di belakang Sekolah.
"Pergi…" bentak Ino pada Ten-Ten yang mendekat.
"Ta-tapi…"
"Pergi… Aku ingin sendiri!" bentak Ino lagi pada Ten-Ten dengan suara naik satu oktaf.
Ten-Ten hanya bisa pergi meninggalkan Ino sendirian. Ini semua demi kebaikan Persahabatan mereka.
Ketika Ino tengah menangis, tiba-tiba datang seorang pemuda berbadan tinggi dan berambut nanas."Kenapa?" tanyanya datar.
Ino sedikit mendongakkan kepalanya,"Shi-Shikamaru-senpai?" suara Ino lirih.
"Kenapa menangis?" Ia kembali bertanya kemudian duduk di sebelah Ino.
Ino menyeka air matanya,"Ti-tidak," jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Bicarakan saja secara baik-baik. Sahabatmu itu pasti akan mengerti," ucap Shikamaru dengan pandangan lurus ke depan.
'Dari mana Dia tahu?' batin Ino bertanya-tanya. "Begitukah?"
"Coba saja. Kamu tidak ingin kehilangan Dia kan?" Shikamaru menoleh kearah Ino.
Ino tersipu malu,"Ba-baik Senpai. Arigatou gozaimasu," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Ino aku tak ingin Kamu bersedih. Aku menyayangimu," ujar Shikamaru datar.
Ino cengo. Baru saja Ia tadi siang sakit hati oleh Sahabatnya sendiri. Sekarang Ia ditembak (?) oleh salah satu Senpai pujaan para murid THS. Tanpa Ia sadari ternyata wajahnya sudah semerah buah tomat kesukaan Sasuke.
Di dalam hati Ino yang paling dalam memang Ia lebih menyukai Shikamaru dibandingkan Sasuke. Kenapa tidak? Shikamaru adalah orang paling jenius di Sekolah mereka. Dan kepintaran Shikamarupun satu tingkat lebih pintar di atas Sasuke.
"A-Aku juga menyayangi Senpai…" ucap Ino ragu-ragu.
Shikamaru tersenyum tipis. Kemudian menarik lengan Ino dan mengajaknya pulang,"Ayo pulang!"
Ino hanya mengangguk. Sungguh hari yang sangat bersejarah bagi Persahabatan mereka.
End Of Flashback
"Jadi Kau…" Sakura menatap Ino tak percaya.
"Si rambut nanas itu?" ujar Sasuke dingin.
Ino hanya mengangguk dan sebuah senyuman yang indah terlukiskan di wajah ayu Ino.
"Syukurlah…" Ten-Ten tersenyum lega mendengar penjelasan Ino.
"Hahahahaha…." Mereka semuapun tertawa lepas. Terkecuali Sasuke tentunya.
Sakura menjulurkan satu tangannya. Diikuti Ten-Ten di atas Sakura, kemudian Ino di urutan paling atas.
"We Best Friend Forever… yeeahh…" seru mereka bertiga bersamaan.
Mereka semua merasa bahagia karena permasalahan ini tidak menjadi masalah yang rumit. Persahabatan mereka kembali seperti semula. Ino sadar, bahwa Ia tak bisa hidup tanpa Sakura-Sahabat baiknya. Begitu pula Sakura, Iapun mengerti bahwa Sahabat adalah sesuatu yang sangat berharga dibandingkan seorang kekasih. Karena kekasih tak akan selamanya ada di sisi kita. Akan tetapi seorang Sahabat akan selalu menemani kita dalam keadaan apapun.
Hari ini mereka bertiga mendapat sebuah pelajaran yang amat penting mengenai arti Sebuah Persahabatan. Merekapun berjanji bahwa tak akan menyakiti hati Sahabat mereka lagi. Sudahakah kalian meminta maaf pada Sahabat kalian yang pernah kalian sakiti?

~ THE END ~

SAKAW

Summary :
"Gue pengen berubah Sakura.." suara Sasuke serak, dengan air mata berderai. "Gue pengen jadi orang baik."
"Sasuuukeee… Loe lagi teler. Jangan ngebuuut…!"
SAKAW
By : Nara 'Diaz' anezAki
Rated : M for bloody *buat jaga2*
Genre : Angst/Tragedy/Friendship
Pairing : Sasu x Saku, Saku x OOC, slight Shika x Ino
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Abal, GaJe, Full Sakura POV, Bahasa gaul & tidak baku, Maybe typo(s). Don't Like Don't Read

SAKURA POV
"Aku haruuus bisssaaa…"ku kepalkan tangan kuat-kuat. Kurasakan sakit sekali. Aku mengerang, menyelimuti jerit yang tertahan.
'Tidak… Tidak! Tak boleh ada yang tahu jika aku kini tengah…'
Ku pukul-pukulkan tanganku ke dinding, seakan meremuk persatuan batu bata dalam liatan semen bercat putih di depanku. Cat putih yang tiba-tiba memercik darah… merah. Tanganku terluka, memar.
'Ughhh…!' sakit itu semakin mengoyak-moyak. Ia menari-nari di depan mata. Akupun mendadak menjadi serpihan debu yang terhempas.
'Kami-saamaa..' desahku, nyaris putus asa. Tubuhku ambruk di lantai porselen, lunglai. Tiba-tiba HPku berdering, Ia telah bernyanyi dengan nyaringnya. Dan aku sangat tahu, siapa yang membuatnya bernyanyi.
'Sai..' Ia tahu saat-saat aku membutuhkannya. Benar, dalam lumuran darah yang merembes dari luka terkoyak di tanganku, aku melihat nama itu berkedip-kedip. Ku pencet tombol, pelan.
"Sakura, butuh berapa butir?"
Aku memejam mata.
"Sakura, kebetulan ada paket hemat, nih. Lima butir Cuma 3 Ryo. Murah sekali bukan? Gue anter ke apartement loe, ya!"
aku masih membisu.
"Ra.. Sakura! Loe dengar gak sih?"
Butir-butir bening membobol bendungan di mataku. Aku menggigil. Sakit itu begitu perkasa merobek prinsip yang barusan di goreskan dalam catatan jiwaku.
'Haruskah aku kembali padanya'
"Tidaaak..!" kuremas HP mungil itu. Ku lemparkan benda yang tidak berdosa itu ke dinding, hingga tak berbentuk. Dan kesakitan itu kembali mengoyak, membuatku terlempar dalam kenekatan yang brutal. Ku bentur-benturkan kepalaku ke dinding keras.. keras.. Di saat seperti ini, aku jadi mengingat kejadian silam.
Flasback
Haruno Sakura namaku. Siapa yang tak mengenal sosokku. Kata orang, aku cantik dan gaul. Meski terlihat lembut, siapa yang menyangka jika aku jago ngebut? Mungkin orang akan berdecak kagum dalam kesan pertama. Namun selanjutnya, mereka akan manggut-manggut maklum, ketika menyadari bahwa sosokku memang brutal.
Di sekolah, aku bergabung dengan Sasuke cs, membentuk sebuah grup band. Aku satu-satunya cewek dan pegang Drumer. Siapa bilang gebukanku kalah mantap dari rekan putra? Buktinya sang vokalis, Sasuke, selalu meloncat-loncat histeris di panggung, melantunkan lagu-lagu metallica, mengikuti gempuran drum yang di babat habis oleh stik yang di gerakkan jemari lentikku.
Keluargaku sebenarnya cukup mentereng . Papa penulis novel terkenal, Mama ketua medis di Rumah Sakit ternama. Jika mau, aku tidak pelu berpanas-panas di atas trail bopengku. Sebuah Limousin putih mulus, di sediakan khusus intuk Haruno Sakura. Seabrek fasilitas lainpun siap menjadi aksesoris yang membuat kehidupanku makin praktis dan jelas bernuansa selebritis.
Namun, aku ternyata memilih kabur dari kementerengan itu. Kabur karena kementerengan itu ternyata hanya sekedar akuarium.
"Bagaimana gue bias menikmati, Sasu." Keluhku pada sang vokalis, Sasuke. "Gue nyaris nggak pernah bertemu Bokap dan Nyokap. Mereka sibuk kerja. Pagi, pukul enam, gue siap-siap berangkat sekolah, dan mereka belum bangun. Malam, pukul sembilan, gue tidur dan mereka baru pulang pukul sebelas malam. Tiap hari gituuu terus. Siapa yang nggak bete?"
"Kakak loe?"
"Dia punya dunia sendiri."
Tepatnya, kak Sasori dengan geng Akatsukinya. Aku sendiri sibuk dengan band dan segala impian yang terkadang begitu abstrak ku pandang.
"Kalau gitu, nasib kita sama, Saku." Keluh Sasuke. "Gue juga jarang banget ketemu ortu. Tahu tuh, apa sih, yang sebenarnya mereka cari?"
Sasuke, kesamaan nasib membuat kami dekat. Nasib Sasuke, bahkan lebih ,mengerikan. Kakak sulungnya cewek, kak Shizune, pernah aborsi 3 kali. Pertama, dia makan sambal super pedas. Kedua, aborsi lewat jasa dokter dan kehamilan terakhir, dengan memukul-mukul bagian atas pinggulnya, hingga bayi dalam kandungannya pun gugur. Aku bergidik ngeri mendengar cerita Sasuke. Apalagi aku tahu, kakak sulung Sasuke masih duduk di semester dua bangku kuliahan. Kakak kedua cowok, Kak Itachi, konon Bandar Narkoba. Berkelas, namun entah kenapa, selalu lolos dari kejaran aparat.
Sasuke sendiri, ia junkies sejak SMP. Dialah yang memperkenalkan pil-pil setan itu kepadaku. Semula hanya sekedar pil BK, lama-lama ecstasy, bahkan putauw.
Maka hari-haripun terlewati dalam nuansa kegelapan. Sakura telah redup dalam cahaya malam. Dan ketika satu persatu berita duka hinggap di jiwaku, mendadak aku sadar bahwa aku berada di jalan yang salah.
"Sakura, Kiba meninggal, over dosis."
Kiba adalah Basist grup band kami. Ia menenggak lima butir ecstasy sekaligus di campur dua botol whisky. Aku menyaksikan tubuh membiru itu menutup mata dengan wajah menghitam, tampak kesakitan.
Pukulan pertama, belum terlalu menghentak.
"Sakura, Naruto.."
Lagi-lagi meninggal, lagi-lagi over dosis. Ia memegang keyboard. Kini tinggal aku dan Sasuke yang tersisa. Sisa yang di cekam bayang-bayang hitam.
"Gue pengen berubah, Sakura." Suara Sasuke serak, denagn air mata berderai. "Gue pengen jadi orang baik."
Saat itu, kedua orang tua Sasuke resmi barcerai. Karena kalut, ia melarikan trailnya dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya, dua butir depressan ia telan. Akupun mengejarnya dengan motor banditku.
"Sasuuukeee… Loe lagi teler. Jangan ngebuuut…!"
Terlambat! Sebuah truk besar tiba-tiba muncul dari tikungan. Benturan keras, darah memuncrat, tubuh yang remuk.. Aku limbung.
"Gue pengen berubah, Sakura." Suara itu terngiang-ngiang di telingaku.
END OF Flashback

Ketika gelap itu sudah terkikis cahaya, aku merasa tubuhku sedikit ringan. Aku bangkit perlahan, mengeliminir nyeri yang menghujam. Sampai kapan aku seperti ini.
Peristiwa gelap itu telah lewat, dua tahun silam. Menimbulkan trauma yang membuat aku nyaris terkena shcyzoprenia dan ingin menyusul ketiga sahabatku dengan cara menyayat pergelangan tanganku. Untunglah Ino dan Shikamaru datang dan menyadarkanku. Kini, aku duduk di semester tiga di sebuah Universitas di kota Tokyo. Menjadi manusia baru yang ternyata begitu sulit. Setidaknya karena aku memulai dari minus. Hasilnya, baru beberapa bulan saja aku benar-benar bisa menghindar dari pil setan itu. Apalagi Sai selalu datang pada saat yang tepat. Ia seperti tahu, kapan aku membutuhkan pil-pil itu.
Lantas, akupun menjadi orang termunafik. Selama setahun menjadi anggota PMI kampus, aku masih seorang pecandu narkoba.
Kulap darah yang memercik di dinding dan lantai. Lantas, luka di tangan ku olesi betadine, nyeri. Bahkan, aku tidak mau orang tahu jika Haruno Sakura adalah seorang mantan…
"Tok.. tok… tok…!" pintu kamar di ketuk. Aku termangu sesaat.
"Sakura-nee! Ada tamu!"
'Sai? Tidak.. jangan!'
"Ino-nee!"
'Anggota PMI kampus itu?' bergegas ku buka pintu, keluar. Lantas, kudapati sosok itu tersenyum menatapku. Di tangannya tampak setumpuk proposal.
"Kok pucat?" ku coba membalas senyumnya. Terasa pahit.
"Kenapa tanganmu, Ra?" ia tampak kaget malihat memar berdarah itu.
"Berlatih kungfu." Jawabku ringan, terkesan bergurau. Sekuat tenaga berusaha menyembunyikan gerai masa lalu yang sampai kini masih kuat mencekam. Ino, teman sekampusku tampak penasaran.
"Kita ke dokter, yuk! Lukamu sepertinya serius." Aku nyegir.
"Ada tugas untukku tuan putri?" lirikku pada setumpuk proposal di tangannya. Namun, ia tampak ragu.
"Kau sedang sakit begitu."
"Siapa yang sakit? Sehat begini."
Akhirnya Ino pun terpaksa per caya.
'Sai? Untuk apa ia datang padaku?'
"Loe gak usah munafik deh, Ra. Jujur, loe masih butuh, kan?" Aku tersenyum sinis.
"Kalau harga yang gue tawarkan terlalu tinggi, khusus buat loe, gue turunkan deh, diskon sampai lima puluh persen. Gila-gilaan memang. Tapi, setia kawanlah."
"Benar, kamu setia kawan, mestinya kamu nggak usah tawar-tawarin obat setan itu sama aku. Aku sudah berubah tahu?"
Wajah Sasuke, Naruto dan Kiba melintas. Tragedi mereka masih menyisakan celah gelap di jiwaku. Entah kapan, celah itu tersentuh cahaya hingga aku mampu menyunggingkan senyum dengan sempurna.
Sai tampak kecewa.
"Gue Cuma kasihan membayangkan loe lagi sakaw. Loe perlu obat.."
"Dan obat itu bukanlah pil-pil setan."
Sai, kakak kelasku di SMA, pemasok obat grup bandku, yang kebetulan kuliah di Tokyo itu, garuk-garuk kepala. Dengan tampang tanpa dosa, yang membuat aku mendadak ingin meremukkan badannya dan memasukkannya ke dalam mesin penggilingan. Tiga nyawa sahabatku telah tercabut gara-gara obat yang ia cekokkan.
"Udah, Sai. Kamu nggak perlu hadir dalam kehidupanku. Kalau tidak, aku tidak segan-segan lapor polisi."
Ia tampak kaget. "Loe akan tahu, apa yang akan terjadi jika loe lapor, Sakura!" ancamnya.
"Makanya, nggak usah kamu ganggu aku lagu."
Ia mendengus kecewa, 'Sakura, harusnya loe tahu karena selama dua tahun, loe termasuk pemasok uang terbesar lewat keuntungan perdagangan haram ini. Uang saku yang bokap loe kasih ke loe lebih dari cukup, meski untuk nge-drugs yang butuh nilai nominal seabrek.' Batin Sai.
"Jadi, bapak Palang Merah Sedunia adalah…" mendadak ucapanku terputus begitu merasakan… kami-samaa… tamu itu… rasa sakit itu… datang pada saat…
Keringat mengucur deras di dahiku. Kami-sama, jangan sampai teman-teman mentoringku tahu jika Haruno Sakura yang anggota PMI kampus dan kandidat ketua PMI kampus, yang alim dan murah senyum, yang cantik dan baik hati itu, ternyata..
Ku kepalkan tangan, ku pejamkan mata, kuat-kuat..
"Sakura… Sakura.." kelima temanku tampak panik. Sekuat tenaga ku tahan rasa sakit itu. Tubuhku bergetar hebat.
"Sakura.." panggil Ino cemas
"Antar aku ke apartementku."
"Saku.."
Aku roboh tak berdaya.
"Ra, jadi kau.." Ino dan Shikamatu tersentak kaget. Aku terisak, sakit. Yah,akhirnya mereka mengetahui siapa sebenarnya aku. Haruno Sakura, the rising star itu ternyata mantan junkies.
"Itulah aku, Ino.. Shika.." suaraku serak. "Terserah jika PMI kampus akan mengeluarkanku dari kepengurusan."
"Sakura.." tiba-tiba Ino memelukku. "Tenang saja, kami akan membantumu, iya kan, Shika?"ujar Ino sambil melirik Shikamaru.
"Hoam.. Sebenarnya itu sangat merepotkan. Tapi, apa salahnya membantu sahabatku?" ucap shikamaru tersenyum tipis.
"Terima kasih.." tangisku pecah. Kurasakan nyaman jetika berada di dekapan gadis pirang itu, sampai kembali kudapati.. tamu itu datang lagi. Sakaw! Entah kapan aku sembuh. Entah kapan.
Sakit yang menyengat… Bunyi HP.. Sai…

~ OWARI~

Perjuangan Cinta

Summary :
Shikamaru seorang mahasiswa yang hidup sebatang kara,mencintai Ino, anak seorang pengusaha sukses. Dapatkah mereka bersatu?
Perjuangan Cinta
By : Nara 'Diaz' anezAki
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, abal, gaje, maybe Typo. Don't Like Don't Read

Normal POV
Pagi hari yang cerah. Terlihat sebuah gedung mewah berisikan manusia-manusia yang haus ilmu. Ya, itulah Konoha High. Di sanalah seorang pemuda bernama Nara Shikamaru bersekolah.
Hari ini, Shikamaru tampak tengah berjalan tergesa-gesa. Entah apa yang membuatnya ingin pulang cepat hari itu. Dia langsung beranjak dengan terburu-buru dari perpustakaan setelah menyelesaikan satu makalahnya. Pemuda itu tidak sempat memperhatikan, kalau dari depan ada seorang gadis juga tengah berjalan menuju perpustakaan. Tabrakan pun tidak bisa di hindari lagi.
" Shikamaru!"seru gadis yang di tabrak lelaki itu dengan lirih dan sangat terkejut bercampur heran.
"Maaf... Maaf Temari..." ucap Shikamaru sedikit tergagap setelah mengetahui siapa gadis di depannya.
"Kamu kelihatan terburu-buru?"selidik Temari sembari menatap lekat wajah Shikamaru yang tampan.
Walau bagaimanapun, gadis manis itu merasakan sesuatu yang aneh berdesir dihatinya. Apalagi selama ini dia menyimpan perasaan istimewa pada pemuda itu. Sudah lama gadis kelahiran Suna ini, kagum pada Shikamaru. Sejak pertemuan pertama mereka di salah satu kegiatan kemanusiaan yang di adakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam di Universitas itu.
"Ya, aku memang ingin lekas sampai ke rumah. Makanya aku terburu-buru sampai tidak melihatmu," tutur Shikamaru dengan jujur.
"Memangnya ada sesuatu yang menarik di tempatmu?" tanya Temari penasaran dengan tingkah laki-laki pujaannya.
"Tidak juga. Tapi perasaanku mengatakan kalau ada sesuatu di tempatku," Shikamaru menjawab sekenanya saja. "Sekali lagi, aku minta maaf, Tema..."
"Tidak apa-apa."
"Benar tidak apa-apa?"
"Lihat saja sendiri," Temari berdiri sambil menggerakkan kedua tangannya. Dia tersenyum sangat manis.
"Kalau begitu aku duluan ya!"
Temari hanya bisa menatap langkah-langkah Shikamaru.
'Ohh... Ada apa dengan diriku? Kenapa hatiku sangat damai bila berdekatan dengannya? Kenapa perasaanku tiba-tiba tak menentu seperti ini' lirih Temari sambil menatap Shikamaru yang mulai menghilang dari pandangannya.

Pada saat Shikamaru mamasuki apartementnya, laki-laki muda itu terkejut. Dia melihat seorang gadis berambut pirang mengenakan seragam SMA, sedang menunggunya di depan pintu. Gadis itu adalah Yamanaka Ino, siswi kelas 3 SMA Konohagakuen. Anaknya periang dan sedikit manja. Pertemuan mereka secara tidak sengaja di dekat Supermaket.
Flashback
Ino terjatuh karena merasa kakinya sakit. Shikamaru membantunya untuk berdiri, karena kebetulan melihat Ino.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Shikamaru.
"tidak. Hanya kakiku tiba-tiba sakit. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa," jawab Ino berusaha tersenyum. Shikamaru merasakan pipinya memanas. Ia segera memalingkan mukanya.
"Benar sudah tidak apa-apa?" Shikamaru menatap lekat wajah cantik Ino. Senyumnya mengembang.
"Ya, terima kasih. Oh ya, nama saya Yamanaka Ino. Panggil saja Ino. Saya sekolah di SMA Konohagakuen."
"Shika… Shikamaru Nara," lelaki muda itu mengulurkan tangannya dengan sedikit gugup.
"Boleh aku tahu, kakak tinggal di mana?"
"Apartement Konoha 3."
END Of Flashback
Begitulah pertemuan pertama itu terjadi begitu saja. Namun sangat membekas di hati kedua muda-mudi itu. Benih-benih cinta itutumbuh subur. Sampai Shikamaru mengerti kalau Ino anak orang kaya.
"Eh, Ino. Sudah Lama?" tanya Shikamaru. Di tanya begitu, gadis itu memasang muka cemberut. Dia malah membuang muka, ketika lelaki muda itu menatapnya.
"Hei... Di tanya, kok cemberut gitu. Jelek tahu!" goda Shikamaru sembari tertawa. Dia tahu sifat gadis manja ini.
"Lagian, sudah tahu sendiri, malah nanya begitu. Lihat keringat Ino nih!" sergah Ino sewot.
"Kakak kemana saja sih. Jam segini baru pulang?" ujar gadis itu masih memasang tampang sewotnya.
"Hei... Sejak kapan gadis yang manja ini mulai memperhatikanku? Tentu saja aku kuliah!" ledek Shikamaru menggoda.
"Nah, mulai lagi kan!" sentak Ino dengan memasang muka marahnya. Matanya melotot seperti mau lompat dari tempatnya. Tapi Shikamaru yang di pelototi malah tersenyum.
'Ah, wajahmu tetap saja cantik Ino. Walaupun kamu marah seperti itu' gumam Shikamaru.
"Sudahlah. Aku minta maaf. Ngomong-ngomong, ada apa sehingga kamu datang padaku?" tanya Shikamaru
"Aku sebal sama temen sekelasku."
"Lelaki atau perempuan?"
"Lelaki. Namanya Sai."
"Kenapa memangnya?"
"Tadi di sekolah dia mendekatiku. Dia mengatakan sesuatu yang membuat aku emosi" ujar Ino.
"Memangnya dia mengatakan apa kepadamu?" tanya Shikamaru.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Ino terdiam. Dia ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Dia bilang, kalau dia mencintaiku." Tutur Ino sambil menundukkan kepalanya.
Shikamaru tersenyum getir mendengar penuturan Ino. Dalam hatinya, ada getaran kenyerian. Ia mencintai Ino, tapi ia merasa tidak pantas bersanding dengan Ino. Ia hanya seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa. Sedangkan Ino, anak orang kaya. Ayahnya pengusaha, Ibunya seseorang yang memiliki jabatan strategis di salah satu instansi pemerintah.
"Itukan wajar. Kenapa kamu marah padanya?" tanya Shikamaru.
"Tapi aku tidak mencintainya. Karena aku mencintai kakak," tutur Ino.
"Kamu bercandakan Ino? Kamu tidak sungguh-sungguh mengatakan itu kan?" ucap Shikamaru tidak percaya.
"Aku serius Shika. Tataplah mataku lebih dalam lagi," ungkap gadis itu. Tubuhnya bergetar menahan segala rasa yang berkecamuk di dadanya.
"Ya, aku menangkap kesungguhan itu. Tapi, kamu akan menderita dengan kenyataan ini, Ino."
"Aku siap menemanimu, Shika. Aku akan memperjuangkan cintaku ini."
Gadis itu kemudian memeluk Shikamaru dan menyembunyikan wajahnya di dada Shikamaru.
"Sudahlah Ino. Aku tidak ingin melihatmu bersedih."
Ino mengangkat wajahnya, menatap Shikamaru dengan mata yang masih basah,
"Katakan, Shika... Katakan kalau kamu tidak mencintaiku!" teriak Ino.

Shikamaru menjadi gemetar mendengar permintaan Ino. Tangan Kanannya terangkat tanpa sadar. Lalu dia mengusap pipi gadis itu dengan tangan masih gemetar. Dia berusaha menyusut beningan kristal di pipi halus itu. Ino sangat mencintainya, dan Shikamaru sendiri akan semakn menderita bila ia membohongi perasaannya.
"Aku juga mencintaimu, Ino, tapi..." Shikamaru tidak meneruskan ucapannya karena telunjuk Ino menempel di bibirnya. Gadis itu memberikan isyarat kalau Shikamaru jangan meneruskan ucapannya.
"Aku mencintaimu Shika. Aku tidak menilai orang dari segi materi. Bagiku, kak Shika mencintaiku, itu saja sudah cukup."
"Terima kasih Ino."
"Kau tahu Shika. Aku sangat bahagia hari ini."
Ino kembali memeluk Shikamaru. Kali ini sangat erat, seperti tidak ingin laki-laki itu pergi dari sisinya. Sedangkan Shikamaru mencoba mengalirkan segala kerinduannya selama ini dengan mengecup kening gadis yang ada di hadapannya. Kini ketulusan itu sangat nampak di antara insan yang kini di rasakan mereka berdua.

~ Owari ~

Friendship In Love Chapter 1 : In Rain

Summary :
Cinta, pacaran, perselingkuhan, tiga kata ini memang sangat berkaitan dan tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana Jadinya jika Shikamaru dan Ino yang baru saja berpacaran, mengalami cobaan yang berat. Dimana sang kekasih, Shikamaru harus menolong orang lain tanpa sepengetahuan Ino. Yang membuat Ino sakit hati dan salah paham.
Lalu, siapakah yang di tolong Shikamaru?
Apakah Ino mau mengerti?
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?

Friendship In Love
Chapter 1 : In Rain
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : OOC, Abal. GaJe. Don't Like Don't Read.

Suatu pagi yang cerah, di hari yang membahagiakan ini, menurut Shikamaru dan Ino, sepasang insan, yang baru saja menjalin hubungan kasih sayang.
Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika gossip tentang Shikamaru menjalin hubungan lagi dengan seorang gadis lain, beredar. Namun, Ino tidak percaya itu semua.

Di SMA Konohagakuen.
"Ohayou Ino-chan! Hn, sepertinya kau sedang senang sekali yaa?" sapa seorang gadis berambut pink, bermata hijau emerald yang mendekati Ino lalu duduk di sampingnya, yang juga berhasil membuyarkan lamunan gadis itu lalu kembali ke alam sadar.
"Eh, Ohayou Sakura-chan! Ah, eh, i-iya tentu saja! Kau tahu? Akhirnya, aku telah memiliki sesuatu yang berharga, yang selalu kuinginkan selama ini!" jelas Ino dengan semburat merah di pipinya.
"Hmm, aku tahu itu! Itu pasti si cowok jenius berambut nanas itu kan?" ledek sakura.
"Iya, eh Sakura-chan berhentilah memanggil dia dengan sebutan seperti itu!" gerutu Ino.
"Dia adalah orang yang sempurna. Kau pantas mendapatkanyya Ino-chan." Puji Sakura.
"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan si-Baka beranbut pirang itu?" Tanya Ino balik.
"Hah, Naruto ya? Tidak, biasa-biasa saja. Hey, lihat itu! Kakashi-sensei sudah datang. Nanti kita teruskan lagi!" Ucap Sakura mengakhiri pembicaraan.
Tett…. Tettt…. Bel istirahat berbunyi.
"Hei Ino-chan!" teriak Karin yang setengah berlari, dengan Ten-Ten mengekor dibelakangnya.
"Ya, ada apa?" jawab Ino.
"Apa kau sudah tahu?" Tanya Karin To The Point.
"Berita tentang Shikamaru-kun dan Temari-chan?" tambah Ten-Ten
"Kalian ini, memang kenapa? Apa kalian tidak bosan, membicarakan dia terus? Pake acara Shikamaru-kun ikut-ikutan lagi!" jawab Ino tak peduli.
"Hei Ino-chan! Kau ini kekasihnya Shikamaru-kun kan? Kenapa diam saja? Sementara kekasihmu yang jenius itu bermesraan dengan oran lain?" jelas Karin panjang lebar.
"Yaps, apalagi banyak yang bilang mereka berdua ini berpacaran!" tambah Ten-Ten.
"Hush, jangan membicarakan yang tidak-tidak. Temari-san, dia itu kan sudah punya calon tunangan, dan rencananya setelah ia lulus sekolah akan bertunangan kan? Dan shikamaru, mana mungkin dia seperti itu, dia sudah kukenal sejak kecil!" jawab Ino membela Shikamaru.
"Tapi, kemarin sore aku melihatnya mengantarkan Temari-san pulang ke rumahnya!" jawab Karin lagi.
"Tidak! Aku tidak percaya! Jangan samakan Shikamaru dengan orang lain. Dia itu setia!" teriak Ino karena kesal.
"Hey kalian! Tak bisakah kalian tidak berteriak-teriak! Kalian ini sudah dewasa, lagipula jangan bawa-bawa masalah pribadi kalian ke sekolah!" ucap Sakura menyela, dan mencoba menenagkan.
"Huh, baiklah, baiklah. Ayo kita pergi! Ini membuang-buang waktu saja!" ucap Ten-Ten menyerah.
Lalu, mereka semuapunn pergi kearah tujuan masing-masing.

Tett…. Bel pulang berbunyi.
"Huft, hujan! Menyebalkan! Bagaimana ini? Apa aku harus menunggunya sampai reda? Aku tidak bawa payung hari ini! Ku kira tak akan hujan!" gerutu Ino dengan pandangan kearah rintik-rintik hujan yang mulai membasahi bumi.
"Sudahlah Ino-chan, ini aku pinjamkan payungku! Hari ini ada rapat OSIS. Jadi, aku tidak pulang dulu." Ucap Sakura yang lau memberikan paying itu pada Ino.
"Oh, Arigatou Gozaimasu! Sakura-chan! Baiklah, aku pulang duluan ya!" jawab Ino, lalu pergi menjauh.
"ya, cepatlah pulang! Orang Tua mu pasti sudah menunggu." Jawab Sakura lalu pergi ke ruang OSIS.

Ino POV's
"Aku pulang!" teriakku ketika masuk ke dalam rumah.
"Oh, kau sudah pulang ya! Ayo cepatlah ganti baju, lalu makan siang." Perintah kasan padaku yang ku balas dengan anggukan, lalu menuju kamarku di lantai 2.
Setelah itu, akupun langsung mengganti pakaianku yang sedikit basah dengan pakaian yang kering! Karena lelah,akupun langsung membantingkan tubuhku ke atas kasur.
'fiuh, tadi, apakah yang dikatakan Karin itu benar? Tapi, mana mungkin Shikamaru melakukan hal sebodoh itu?' bati Ino.
"Ino, ayo cepat makan!" teriak Kaasan memanggilku, yang diikuti langakah kaki menuruni tangga dan menuju ruang makan. Lalu, akupun segera menyantap sepiring nasi yang sudah disediakan Kaasan.

Normal POV's
"Baiklah, rapat kali ini selesai! Silahkan bereskan barangkalian masin-masing,dan pulanglah ke rumah!" ucap Sakura menutup rapat OSIS kali ini.
"Hai Teme! Ayo kita pulang." Ajak Naruto pada Shikamaru.
"Hn, kau duluan saja! Ada sesuatu yang harus kukerjakan." Jawab Shikamaru lalu pergi meninggalkan Naruto dan menuju ke belakang sekolah. Di sana terlihat seorang gadis berambut pirang dan berkuncir 4 sudah menunggu.
"Fu, fu, fu, kau lama sekali!" protes gadis itu.
"Gomenasai! Jadi, bagaimana selanjutnya?" tanaya Shikamaru.
"Naruto! Ayo cepat." Ucap Sakura terburu-buru.
"Iya." Jawab Naruto singkat, tapi diikuti dengan gumaman tak jelas.
"Ssstt, diam kau Baka! Ayo cepat kemari." Perintah Sakura menarik lengan Naruto, lalu bersembunyi di balik semak-semak.
'itu, bukankah itu Shikamaru? Dan gadis itu, itu adalah Temari-san, tapi, apa yang dia lakukan dengan gadis itu?' batin Sakura.
Tanpa apikir panjang, ia pun langsung menelpon Ino.
"Moshi-moshi!" jawab Ino.
"Ino-chan! Kau sedang apa? Ayo cepat datanglah ke sekolah. Kau harus lihat ini!" teriak Sakura dengan tegas, namun pelan.
"Hah, apa kau sudah gila? Hari ini kan hujan. Lagipula, aku sedang makan." Protes Ino.
"Ino, Shikamaru…. Dia bersama gadis lain!" ucap Sakura To The Point!
Tanpa berkomentar lagi, Inopun segera menutup ponselnya lalu menyamabar paying sekenanya. Dengan setengah berlari, kurang dari 10 menit ia sudah sampai di sekolah.
"Sssstt, Ino kemarilah!" teriak Sakura dari balik semak-semak.
"Lihat itu!"
'itu, itu bukankah Shikamaru? Kenapa dia bersama Temari-san? Dan, sepertinya mereka akrab sekali' batin Ino.
Lalu, Inopun keluar dari semak-semak yang menimbulkan suara, dan berhasil membuat Shikamaru menoleh.
"I-Ino…" ucap Shikamaru kaget.
'Aku kecewa Shika' batin Ino lalu berlari menerobos rontik-rintik hujan tanpa perlindungan. Dan kini, air matanyapun perlahan menetes di pipinya, yang kini bercampur dengan butir-butir air hujan.
"Ino!" teriak Shikamaru, lau mengejar Ino.
"Shika, sudah biarkanlah saja!" cegah Temari.
"Cukup Temari, Ini sudah keterlaluan, Ino yang jadi korban! Maaf, ku tak bisa menolongmu lagi." Perintah Shikamaru tegas, lalu kembali mengejar Ino.

To Be Continued